Jumat, 18 April 2014

Pengalaman Mengikuti Ujian Nasional 2014



Hai hai, kembali lagi dengan saya, Anggita. :D Sebelumnya mohon maaf karena saya jarang banget nongol di sini, karena kesibukan saya sebagai seorang anak kelas dua belas SMA.

Well, baru dua hari yang lalu saya menyelesaikan Ujian Nasional 2014. Saya akan menceritakan pengalaman mengikuti ujian tersebut. Yang mau baca ikutin terus ya! ;)

Perjalanan saya sebagai anak kelas dua belas dimulai dari semester satu yang dilaksanakan setahun yang lalu. Sebagai anak yang menduduki jenjang paling akhir dalam dunia pendidikan wajib belajar dua belas tahun, tentunya saya sudah harus menyiapkan segalanya demi masa depan saya. Saya harus menentukan jalan hidup saya di masa yang datang, kuliah di mana, kerja apa, sukses atau nggak.

Seperti di postingan sebelumnya yang memuat tentang keseharian saya, saya adalah otaku, menyukai segala hal berbau jepang dan yang lainya. Ini berimbas dengan minat saya terhadap prodi perkuliahan. Saya memutuskan untuk mengambil sastra jepang di salah satu ptn favorit di Jakarta. Saya optimis bisa masuk ke sana dan saya berusaha belajar semaksimal mungkin dari semester satu.

Saya, Kevin, dan chairmate (cuih) saya si Sukma berada dalam tempat les yang sama, lebih tepatnya kami les di NF dekat rumah. Kami les rutin, berusaha serius mengikuti semua mata pelajaran tersebut. Kammi ikut konsul juga dengan guru NF terbaik sepanjang masa (dan ganteng //halah) Guru ekonomi kita kak Heris, kakak alumni sekolah kami yang ngajarin ekonominya sabaaaaaar banget.

Sebagai anak yang akan mengikuti ujian berat ini, tentunya saya paham sekali apa saja materi yang saya sangat lemah di sana. Itu ekonomi, dan geografi. Itu sebabnya materi tersebut yang lebih saya dalami.

Hampir setahun berlalu dan ujian nasional datang. Saya berdoa dan optimis sekali ketika berangkat ke sekolah pagi itu karena saya yakin persiapan saya sudah matang. Saya dan kelompok belajar saya yakin sekali dengan kemampuan kami sendiri dan insya Allah pasti bisa karena kami sudah memantapkan diri dengan belajar dari ujian-ujian sebelumnya dan pendalaman materi berdasarkan skl.

Dan ujian nasional di hari pertama dimulai.

Saya mengambil jurusan IPS, karena itu saya mengikuti ujian Bahasa Indonesia dan Geografi. Saat mengerjakan Bahasa Indonesia, saya lumayan bisa mengerjakannya meskipun ada beberapa soal yang membuat saya bingung, ditambah lagi soalnya lebih panjang.

Saya mengecek jawaban saya sampai tiga kali sebelum akhirnya bel istirahat berbunyi.

Kemudian saat ujian Geografi, saya, Kevin, Sukma, dan Fitri sudah optimis bisa mengerjakan soal karena kami belajar lebih dulu.

Dan begitu mengerjakan soalnya..... saya diam.
Soalnya sulit. Serius. Oke benar soal-soal tersebut sesuai dengan SKL yang diberikan dengan guru saya tetapi materinya ternyata lebih dalam. Ini tidak seperti apa yang kita pelajari selama hampir setahun. Kami sangat tidak menyangka akan menjadi seperti ini.

Keluar dari ruangan saya disambut dengan wajah lelah Kevin, muka cemberut Fitri, dan muka pengen nangis Sukma. Mereka menghambur kepada saya. Saya masih tenang dan bertanya kepada mereka, saya berharap mereka bisa mengerjakan soal lebih baik dari saya.

"Gimana geografinya, guys?"
"Susah. Banget. Masa nggak ada yang keluar sih!" dan mereka bertiga langsung bilang begitu.

Saya langsung mikir.... Lah berarti bukan cuma saya yang ngerasa soalnya sulit?
Kami terus berbincang, dan nggak sengaja bertemu dengan salah satu kelompok belajar saya, Nadia, yang dapat peringkat 2 se IPS.

"Gimana, Nad, geografinya? Menurut kita susah..."
terus Nadia langsung teriak, "Otak gue collaps ngerjainnya! Gila kok susah banget siiiih! Pusing gue!"

Lah.

Bahkan Nadia yang lebih pintar dari kami pun bilang susah.

Saya langsung mikir di situ, Ya Allah. Apakah persiapan kita yang kurang atau emang tahun ini lebih susah dari tahun kemarin?

Tidak mau 'kecolongan' lagi seperti hari ini, saya dan Sukma berencana ingin belajar matematika, saya mengajak Kevin dan Sukma mengajak Fani. Kami janjian berangkat ke rumah Fani jam tiga sore.

Saya dan Kevin mampir dulu ke KFC untuk makan sambil membahas materi sosiologi yang ada di buku detik, sambil membunuh waktu.

Kemudian saat di rumah Fani, kami membahas beberapa soal dari buku detik detik. Oke kami akui saat mengerjakan detik juga kami merasa kesulitan karena banyak soal yang sulit dan kami memang kekurangan jam oleh guru matematika kami. Tapi kami berusaha hari itu.

Saya sampai rumah jam enam sore, kemudian melanjutkan belajar matematika dan sosiologi di subuh hari.

Saya, Kevin, Sukma, Fitri, dan Nadia optimis sekali hari itu. Serius, meskipun kita belajar meraba-raba tapi masasih nggak ada hasilnya sama sekali? Pasti ada yang keluar lah satu satu.

Saat mengerjakan soal matematika, oke saya akui saya juga menemukan kesulitan saat mengerjakannya. Bahkan saya menemukan dua soal yang sama persis dengan soal try out universitas. Dan saya nge-blank. Lupa rumus. Dan bayangkan, hampir enam bulan memegang detik matematika, di soal saya hanya ada SATU soal yang keluar. Please itu saya ingat banget sama soal tentang pesawat dan penumpang!

Ada sekitar sepuluh--bahkan lebih--soal yang saya 'tembak' sambil menghitung kancing hahahaha. Selebihnya pun belum tentu benar. *sigh*

Saya melirik sekeliling saat jam sudah selesai. Saya tengok ke belakang ke tempat duduk teman sekelas saya, Anggi.

"Ngasal berapa, Nggi?"
"Ada kali gue cuma ngitung lima belas soal, Git. Susah banget astaga."

Sekali lagi, bukan cuma saya ternyata yang mengalami kesulitan.

Kemudian ada yang menghambur ke kelas saya, teman sekelas saya, sambil nangis dia bilang ke temannya, "Ya Allah masa gue nggak ngerti semuanya sih... Nilai gue berapa coba nanti--hiks"

Saya keluar kelas, mencari teman-teman saya. Lagi-lagi saya menemukan wajah kecewa di wajah teman teman saya.

Kevin, yang saya tahu adalah orang paling pintar dalam pelajaran ini diantara kami cuma bisa geleng-geleng kepala. Dia cerita bahkan tadi saat merobek ljk (lembar jawab komputer) ljk nya robek dan nggak bisa dipakai. Kemudian soal dia diganti dengan yang baru.

Saya bisa melihat Sukma mau nangis, Fitri juga. Thalut, sc an saya akhirnya nyamperin Sukma dan Fitri dan berusaha menghibur mereka. Saya dan Kevin juga sama.

"Yaudah, abis ini sosiologi. Kita pasti bisa kok! Udah berapa kali minta tambahan sama Bu Ajeng nilai kita kan gede di sana! Udah, lupain mtk nya, guys!" saya berusaha menghibur mereka.

Dan saat sosiologi pun, soalnya susah banget juga ternyata.

Hahahaha. Ada soal saya yang saya benar-benar nggak ngerti sama sekali cara menjawabnya. Ini apa, Ya Allah. Soal penelitian macam apa ini.

Saya cuma bisa berdoa, "Ya Allah, mudahkanlah. Ya Allah, mudahkanlah." Begitu terus saat saya menghitamkan jawaban saya.

Keluar ruangan saya menemukan beberapa anak yang santai saat mengerjakan semuanya. "Lumayan lah, nggak susah-susah banget."

Lah?

Kok saya ngerasanya susah ya? Ini saya yang kurang persiapan atau gimana? Saya yang nggak bisa atau gimana? Duh... Ya Allah...

Sekali lagi saya melihat teman teman saya menunduk lesu dan menggeleng kepala. "Susah.... gila."

Ya Allah, apa kami kurang persiapan? Apa usaha ikhtiar kami kurang keras...?

Kami memutuskan untuk konsul ekonomi hari itu. Kami nggak mau lagi ngerasa gagal.

Kami konsul dengan kak Heris jam setengah lima sore di NF Cikeas, ditanyain sama kakak-kakaknya, "Gimana UN nya? Bisa dong."

"Susah kak." Terus kakak-kakaknya kaget. Masa sih susah?

Yaudah karena nggak mau gagal lagi, kami bawa banyak materi ekonomi, nggak cuma dari detik, dari TO universitas kemarin juga saya bawa. Kami konsul dengan serius. Kak Heris ngajarin kami dengan sabar banget, menenangkan kami juga.

"Nggak apa. Pasti bisa kok. Kalian kan sering konsul. Udah usaha itu namanya. Sekarang mana materi yang nggak ngerti?"

Saya nanyain tentang pajak penghasilan hari itu. Kevin nanyain equilibrium.

Dan yang paling bikin nganu adalah..... Pas kak Heris bilang gini, "Besok keluar jam setengah satu kan? Nanti kakak sms, ah. Jawabnya harus gampang ya hahaha."

Ya Allah kak... kita nggak janji sih. Tapi isnya Allah, doain ya kak kita diberi kemudahan.

Besoknya, Bahasa Inggris dan Ekonomi.

Saya belajar bahasa inggris hanya pagi-pagi habis subuh dan di atas motor (karena capek konsul semaleman). Dan alhamdulillah dari detik ada tiga soal yang keluar, film 2012. Tapi listeningnya.... Itu aksen apa Ya Allah.

Saya udah nggak les bahasa inggris lagi dan nggak tau itu aksen apa.

Saya nggak yakin juga dengan bahasa Inggris saya. Terutama listeningnya. Yasudahlah.

Dan ujian ekonomi. Saat ulangan dimulai saya melihat sekeliling. Semuanya tenang.
Dan begitu saya membuka dan merobek soal.... lembar jawaban saya robek. Gede banget.

(saya langsung teriak mampus dalem hati hehehee, kaget)

tapi akhirnya soal saya diganti sama pengawas, yaudah deh nggak apa. Dan pas saya cek soalnya, Ya Allah susah lagi.

Apa itu permintaan kardinal? Kenapa ada RTLN dan yang ditanya dari faktor produksi ke LN. Ya Allah. Bahkan laju inflasi yang saya udah siaaaap banget buat ngitungnya malah nggak ada sama sekali. Beruntung sih. Cuma lebih susah. Banget.

Saat ekonomi yang saya bayangin di otak saya cuma kemarahan orang tua saya dan wajah tenang kak Heris yang bilang, "Gimana, gampang kan?"

...... Maafin kita, Kak. Maafin saya karena nggak bisa ngerjain ini semua.

Keluar ruangan, saya langsung di sambut sama tangisan Sukma dan Fitri yang pecah. Disambut sekali lagi dengan wajah lesu Kevin dan wajah cengengesan Thalut yang lagi lagi menghibur Sukma dan Fitri.

"Ya Allah, yang kebayang di wajah gue cuma muka Kak Heris yang bilang 'pasti bisa' dengan senyum. Gue ngerasa bersalah sama Kak Heris. Udah diajarin sampe mulut dia berbusa, orang yang sabar banget sama kita dan ngarepin yang terbaik bagi kita. Gue takut nggak bisa ngasih yang terbaik buat dia. Please. Gue kurang usaha apa gimana? Gue kurang belajarnya apa gimana?"

Yang ngomong panjang lebar itu bukan saya, tapi Sukma. Sama banget pikirannya.

Saya nggak berani nangis di sana, apalagi ada Kevin. Saya sedih ngeliat temen-temen saya yang bahkan lebih pintar dari saya aja kayak gini. Terus nilai saya gimana?

Pulang sekolah saya langsung browsing dan mencari berita seputar ujian nasional, dan yang saya kagetkan adalah... ternyata bukan cuma saya dan teman teman saya yang merasa kesulitan mengikuti ujian nasional tahun ini. Tapi hampir SELURUH Indonesia. Saya kaget dengan salah satu postingan kaskus yang menceritakan tentang ujian sekolah yang dialaminya dan betapa susah mereka ngerjainnya.

Dan ternyata banyak banget yang protes ke menteri pendidikan, Bapak Muhammad Nuh. Ini salah satu contohnya.


Dan... Ternyata bukan cuma saya yang mengeluhkan ujian nasional tahun sekarang. Sementara pak Muhammad Nuh sendiri memberikan tanggapan seperti ini;


.... Saya sedih bacanya. Sedih banget malahan. Kami udah berusaha semaksimal mungkin buat tiga hari itu dan ternyata memang soalnya dipersulit. Soal yang sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, soal yang sangat mendalam. Soal-soal internasional yang ternyata dipakai Bapak Menteri dalam membuat soal Ujian Nasional 2014.

Oke. Mungkin memang saya kurang belajar. Mungkin juga saya kurang persiapan dalam menghadapi ini semua. Tapi yang saya pikirkan, kalau kami saya yang tinggal di daerah dekat Jakarta (yang otomatis kualitas pendidikannya hampir sama dengan kota tersebut meskipun kami masih di bawah mereka) bagaimana dengan teman-teman kami yang berada di Sumatera? Bagaimana dengan teman-teman kami yang berada di Papua? Yang berada di daerah-daerah pedalaman yang akses guru ke sana pun sulit?

Mereka, untuk mendapat pendidikan saja sangat susah. Ditambah dengan ujian nasional yang ternyata soalnya mengambil dari kesetaraan ujian internasional.

Mungkin maksud Bapak Menteri baik. Mungkin pemerintah berencana untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia dan menguji anak-anaknya (kami), semampu apa sih kami dalam menghadapi dunia? Bisa nggak sih anak-anak Indonesia bersaing dengan dunia internasional?

Kenyataannya beginilah adanya. Jenis ujian INTERNASIONAL yang ternyata baru diberitahukan di hari pertama ujian nasional tentu saja sangat mengecewakan kami, angkatan tahun 2014.

Kami mengerti, sangat mengerti maksud dari bapak pendidikan yang sangat baik ini. Tapi melihat kenyataan yang kami hadapi sekarang ini, untuk bisa lulus saja alhamdulillah. Nilai kami? wallahu'alam.

Saya pribadi sebagai salah satu anak bangsa ini, saya punya cita-cita. Saya ingin membanggakan bangsa ini, saya ingin menjadikan bangsa ini dikenal dunia dengan citra dan pandangan yang baik. Bukan dengan tingkat korupsi tertinggi di dunia. Bukan dengan tingkat illegal logging yang semakin meningkat. Saya ingin membuat bangsa ini dipandang dunia sebagai bangsa yang kuat dalam berbagai hal.

Namun dengan adanya ujian nasional saat ini.... jujur saya down. Saya takut tidak lulus. Saya takut tidak bisa membahagiakan orang tua saya. Saya takut bikin guru-guru saya kecewa. Saya takut bikin kak Heris kecewa karena kebodohan saya.

Saya takut nggak lulus ujian nasional.

Tapi sekarang saya cuma bisa berdoa sama Allah SWT, Saya tahu Allah pasti akan memberikan yang terbaik untuk saya, dan teman teman saya. Saya menangis semalaman, menangisi sendiri karena kekecewaan saya terhadap diri saya, dan terhadap ujian itu. Saya sedih melihat ibu saya yang berusaha menghibur saya tadi malam. Saya sedih melihat Kevin yang juga berusaha menghibur saya. Saya ingat ketika Bu Cucu, wali kelas saya menangis seminggu yang lalu, bilang pada saya, "Tolong titip Sos 3 ya..." Maaf, ibu. Maafkan kami.

Ah. Tapi apa yang bisa saya lakukan? Dengan keadaan seperti ini, sekali lagi, hanya bisa berdoa pada Allah SWT. Insya Allah saya masih di jalan-Nya, saya sudah berusaha, meskipun saya tahu banyak kemungkinan yang akan terjadi setelah ini, saya harus tetap berjuang dan bersabar. Belajar lebih giat lagi juga.

Untuk yang telah membaca tulisan (yang sangat panjang) ini, tolong doakan kami, angkatan 2014. Insya Allah, angkatan 2014 akan mendapatkan hasil yang terbaik. Aamiin.

Ps: Saya tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun dalam tulisan saya ini. Apabila ada yang kurang berkenan, typo dan sebagainya saya mohon maaf.

Pss : Gambar credit dari kaskus dan twitter.

Salam,

Anggita Octavi Syukma. :)

3 komentar: